Senin, 05 Agustus 2013

!

"E+B= R(notittle)"





Story by: Jhaihan F Nabila(BAYA)


Rasanya bukan sebulan aku berada di kota ini, baru empat minggu saja tubuhku sudah dibuat serasa bertahun-tahun di Paris.
Tiap detiknya aku lalui dengan menikmati elegi cinta disetiap sudutnya, memanjakan mataku dengan eksotiknya setiap ukiran di Arch de Triomphe, membiarkan tubuhku menikmati setiap kilauan cahaya yang seakan mengalahkan jutaan bintang yang gemintang tiap malamnya, ya Menara Eifel. Berjuta keindahan dengan gaya neo klasik khas Paris terus saja menggoda ku untuk bahagia bersama semua yang ada disini. Aneh jika aku menolak semuanya karena merindukan sesuatu di masa  lalu. Keindahan yang belum selesai aku nikmati sampai akhir, tempat yang seharusnya menjadi penyebab kenapa aku mau memijakan kaki di tanah luar.
Disini aku menghabiskan setiap hari ku dengan secangkir cairan pekat beraroma robusta, menulis ribuan syair yang tak bertuan karena aku memang tidak mau syair-syair yang ku tulis ini ada yang menerima atau menolak. Hanya menikmati sisa-sisa kehidupan itu lah alasan kenapa aku di sini.
Masalalu yang membawaku kedalam sebuah masa depan, seperti terancam serangan meriam, bagai akan masuk kedalam jelaga pekat penuh racun jingga, seperti itu rasanya aku jika memandang masa lalu. Orang bilang duniaku yang sekarang seperti dunia peri orang bilang juga alur cerita hidupku ini bagaikan rajutan dongeng dimana aku yang menjadi tokoh utamanya. Hidup dalam jutaan angan dan impian memang bukan sebuah keinginan karena harus terus memusuhi realita, hingga akhirnya aku membangun duniaku sendiri, duniaku yang sekarang.  Barangkali memang harus seperti ini karena faktanya manusia memang terlahir untuk mengasingkan dirinya sendiri, mengasingkan jiwanya dari teman-temannya, dari cerita masalalunya, bahkan dari takdir nya di masa depan.
Tidak ada salahnya kalau mau menjadi awan. Awan ringan, menggumpal berwarna putih secara kasat mata, menghilang menyisakan hujan, lalu kembali lagi dan entah kapan, bereksplorasi dalam evaporasi.  Jika memang harus jadi baru karena tidak mau menghadapi yang lama kenapa tidak.
Aku bukan menulis cerita tentang jutaan bintang atau jutaan keindahan lainnya, aku menulis cerita tentang diriku sendiri yang kubuat alurnya seperti sesuai padahal tidak. Alasan terbaikku menulis adalah membuat semua hayalanku yang tidak berwujud menjadi sebuah tulisan di atas kertas putih dalam batas kenyataan. Anggap saja ini sebagian dari cerita ku untuk aku bagikan pada setiapnya yang mengalami hal yang sama dan serupa dengan-ku.
Dulu aku hanya berucap kebohongan karena aku tidak suka cerita kenyataan hidupku, aku bahkan mengganti setiapnya yang ada di hidup-ku, memunculkan tokoh baru yang sama sekali tidak tahu berasal dari mana, membuat diri sendiri lama-lama muak karena harus terus berbohong. Ternyata bukan aku saja yang muak dan bukannya kebahagiaan yang aku dapat dari semua kebohongan itu tapi suatu titik jemu yang penuh benang kepalsuan dan di situ aku hanya berdiri sendiri menyesal karena tidak tau apa yang telah aku lakukan pada mereka, saat itu yang hanya bisa aku lakukan adalah menyalahkan yang bisa aku salahkan menangisi apa yang bisa aku sesali siapa lagi kalau bukan mahluk tak berdosa yang bernama takdir. Aku membenci semuanya saat itu termasuk diriku sendiri, aku bahkan menyalahkan tuhan yang tahu segalanya. Selesai hari itu aku menyibak dengan sebuah hari baru di tempat yang baru dan orang-orang yang baru , sengaja ku pilih tempat lain agar aku bisa terbebas dari mata-mata kebencian di masa lalu dan harapan dapat bersenang-senang di masa depan, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengulangnya, mengulang semua hayalan masa lalu.
Aku tidak tahu ini sebuah penyakit atau wabah yang berasal darimana dan oleh siapa penyebabnya, nyatanya aku mengulangnya lagi dikehidupanku di masa berikutnya, aku membaca lagi satu cerita dan menyukai tokoh cerita dan alur cerita di dalamnya, aku suka kesedihan yang ada dalam setiap novel yang aku baca karena selalu berujung dengan kebahagiaan. Malam itu aku membaca sebuah kisah neo klasik berjudul “Perahu Kertas” dan aku suka kugy, dan menurutku kugy mirip denganku dan terlebih lagi aku juga suka keenan, tak perlu ribuan tahun untukku mempelajari setiap bab ceritanya  dalam waktu satu hari dan satu kali membacanya aku sudah bisa menciptakan dunia baruku, dunia di mana aku menyakini sesuatu tentang hidupku dunia di mana aku yakin kalau aku adalah apa yang kugy lakukan, ucapan ku adalah apa yang kugy ucapkan, dan hatiku adalah aoa yang kugy rasakan, tidak perlu bercermin untuk melihat semirip apa aku dengan kugy, orang-orang sekelilingku bisa tahu dari mana setiap keanehan ini berasal, jika saja masih dalam batas wajar mungkin masih mereka maklumi tapi semuanya selalu diluar batas, dan untuk ku yang tidak mengerti seperti apa batasnya bagaimana warna dan bentuk batasnya, fatal. Aku bukan hanya menciptakan fatamorgana dalam karakter ku tapi juga duniaku yang aku sesuaikan dengan dunia novel itu, warna dunianya, aroma udaranya, dan bentuk dunianya, namun saat semua yang aku ciptakan itu kembali lenyap karena kenyataan yang selalu berusaha memerangi sebuah imajinasi, harus hilang seketika karena memang benar tidak ada, rasa sakit bagai terjatuh dari atas Himalaya kembali aku rasakan, dokter bodoh itu meungkin saja memfonis ku gila karena mengalami suatu distorsi realitas yang parah, dan terus memberiku butiran kapsul yang dengan sekejap akan membuat aku tidur dan berpisah sejenak dengan duniaku. Mereka tidak tau kalau satu aja kapsul yang mereka berikan untuk menenangkanku itu sama dengan satu mimpi buruk dalam tidur ku.
Karena kenyataan terus saja memusuhi semua yang aku mau, aku membuat dunia ku sendiri dengan aturanku dan hanya aturanku yang berlaku, persetan dengan aturan bodoh dunia mereka. Akhirnya harus terasing dengan dunia mereka yang dulu juga adalah duniaku. Aku bertahan sampai akhir dan terus berteman dan mempercayai setiap hayalanku yang jadi kenyataan di duniaku yang sekarang, namun seperti es batu yang awalnya kuat dan keras  letih dan meleleh dan meluluhkan partikelnya dan sedikit demi sedikit menjadi air yang berarti harus masuk kedalam sebuah aliran dan kembali pada peraduan yaitu arusnya, begitu pula hayalan yang kembali hanya menjadi sebuah impian karena  dibentur kenyataan yang bertolak pada nya. Kembali terjatuh pada lubang yang tidak asing karena sama seperti sebelumnya menyisakan penat yang merelakan diri pada sebatang pohon yang kayunya sangat rapuh.
Aku sangat lelah dan sangat ingin mengakhiri semua ini dengan mengahiri hidup ku juga, mencoba menusukan sebilah stainless tajam kedalam detakan nadi, dan keluarlah cairan pekat kemerahan darinya, memejamkan sedikit demi sedikit mataku karena merasakan sakitnya racun panah itu dan berharap aku akan terbangun di tempat indah di surga loka. Membukakan mata dan aku lihat sekelilingku hanya berwarna putih dan seperti ada benda menancap di tangan kananku sesuatu berbentuk cairan yang masuk sedikit demi sedikit sampai banyak kedalam tubuhku, yang ku dengar bukan suara malaikat yang membangunkanku untuk mengajakku ke kehidupan abadi bersama edelweis, tapi tangisan dari mulut seorang wanita yang sangat lelah melihat setiap kemelut yang kubuat, benci sekali aku melihat nya menangis terlebih menangisi ku, rasanya lebih sakit dari tertusuk belati emas beracun.  Bodohnya aku bermaksud hanya membuat semua masalah selesai dengan menghilang dari dunia ini tapi malah membuat yang tidak seharusnya terjadi malah terjadi.
Hari setelah hari itu selesai adzan subuh dikumandangkan dan selagi fajar menyingsingkan lengannya hendak siap-siap untuk menyibak malam, aku melihatnya mendahahkan tangannya dalam dekap doa dan butiran air mata, tanpa tenaga sedikit pun hanya angin yang mendirong ku untuk melangkah dan memeluknya dan menangis sejadi jadinya dan berucap dalam tangis “ibu tolong aku, selamatkan aku”. Aku salah kalau aku berpikir selama ini aku hanya menangis sendirian ternyata wanita ini pun menangisi hal yang sama, menangisiku. Berjanji pada diri sendiri dan menyalahkan diri sendiri itu yang sementara bisa aku lakukan, mungkin inilah yang aku butuhkan selama ini untuk pergi dari semua ketololan duniaku sebuah harapan, bukan dari seorang pangeran berkuda putih yang selama ini ada dalam duniaku, bukan seorang peri yang selama ini ada dalam setiap tulisan ceritaku,  Wonder Woman Tak Bersayap mungkin seperti itu aku memanggilnya.
“kalau memang kamu terlalu takut dengan semua impian kamu itu tidak jadi sebuah realita, tulis itu dalam sebuah kisah dan biarkan semua orang tau semua hayalanmu itu dan berkaca pada kisahnya”
“kalau kamu takut kamu bisa pejamkan mata mu untuk sekejap dan biarkan semua impianmu berada pada tempat dimana semestinya”
“kalau semua dongengmu itu indah awalnya tidak “mesti juga harus indah akhirnya kan, anggap itu novel misteri yang tidak selalu harus happy ending”
“berhenti hanya menjadi seorang penikmat cerita orang lain dan terjebak pada alur didalamnya dan buat  alur mu sendiri supaya tidak terjerat terus lah berpegangan pada satu baja  yang kuat yang bernama tekad”
“jadi seperti apapun kamu di masalalu jangan serta merta harus menjadikan seperti apa kamu dimasa mendatang, karena bukan tidak mungkin semua yang kamu tulis itu akan menjadi sebuah ceritamu yang happy ending sebenarnya”
“yang terpenting adalah, bebaskan dirimu, bukan membiarkannya terbang”

Sekarang banyak tulisan ku yang mereka baca, banyak dari mereka terjerat juga kedalam alur cerita yang kubuat mungkin akan ada aku yang lain yang tidak boleh sama seperti ku, menjadi inspirator bagi setiap orang yang susah bergerak dan terkurung dalam sangkar hitam pekat, membuat film dengan hayalanku sebagai tokohnya bahkan tentang diriku sendiri, tidak takut terjatuh lagi karena kini hayalanku berteman dengan realita, menjadi penulis dan mengakui setiap dosa lewat tulisan berharap tidak ada lagi dosa ini dikemudian hari, berbagi duniaku dengan mereka yang ada di kenyataan, memebiarkan mereka menagis dan tertawa bersama setiap tulisanku, “Best Seller”
Siapa sangka aku bisa menjadi apa aku sekarang dan kemudian, karena satu harapan, dan tekad yangbernama  “Kemauan”, didukung dengan terapi ku dalam setiap mata kuliah yang aku ambil awalnya aku tidak menyangka aku akan mengobati diriku sendiri degan tulisanku, dan berdiri di atas gelar yang aku ambil sekarang sebagai seorang neuroppsikolog dan seorang penulis, dikota baru di paris dan mungkin akan berpindah ke kota lainnya atau benua lainnya yang jelas tidak menggeser dunia.
“kalau memang terlalu takut untuk bangun dan berdiri cukup hanya membuka mata saja kamu bisa merubah duniamu, dunia orang lain, dan apa yang kamu mau selama usahamu mengalahkan kemauanmu”
Kisah ini aku tulis bukan untuk dibaca dan ditinggalkan begitu saja tapi untuk diingat bahwa di dunia ini tidak pernah ada manusia bodoh  dan manusia sempurna, yang ada hanya yang mau berusaha jika hasilnya tidak sesuai mungkin akan ada lainnya yang lebih indah. Yang perlu dilakukan hanya percaya pada diri sendiri dan mengusahakannya.



SELESAI HARI INI tapi BUKAN AKHIR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar