Rabu, 18 Juni 2014

silent type in KEMANG!!


Dalam kesilauan sinar lampu malam hari di sebuah tempat bernama food garden, ya kemang. Tepat dimana aku membuka kedua pintu mobil dan melangkahan kaki dengan kedua pasang converse classic hitam, kemeja kotak-kotak, kaus belel dan jeans belel yang tidak menolong kerapihan dari penampilanku malam itu. Hari itu bukan hari spesial yang harus dilalui sebenarnya, tapi entah kenapa aku ingin sedikit terlihat rapi malam itu, bahkan aku menambahkan sedikit pewarna pada bibirku yang sudah terbiasa polos dengan warna seadanya. Hmmm sempat berpikir dalam hati untuk apa memakai pewarna bibir padahal jelas-jelas rasanya seperti memakan mentega dan mengoleskannya ke bibir.  Food garden here i come, sebenarnya aku tak begitu suka bingar tapi alunan lagu New Wave, yes still 80-an terputar dan membuat malamku sedikit cozy.

Satu menit, lima belas menit, waktunya tiba
Degg laki-laki itu datang, berperawakan seperti tentara-tentara dan agen FBI dengan tinggi sekitar 179 CM, rambut ikal yang sengaja dicepol, baju lusuh yang sering ku sebut slenge-an. Kesan pertama yang terbesit adalah “Seperti dalam foto “ “Pasti anak gaul jakarta”. Saat yang ditunggu datang tiba-tiba saja semua skenario yang telah disusun hancur berantakan, ternyata dia bukan seperti apa yang ku kira. Pembawaannya sangat santai kadang-kadang terlalu santai jadi sedikit seperti pelawak , seharusnya malam itu dia staycool tapi jauh diluar dugaan sebelumnya. Jangankan stay cool laki-laki ini bahkan nyaris tanpa jaim. Bebas dan melepaskan dirinya untuk dilihat olehku pada malam itu. Oh laki-laki ini moody terkadang asik tapi tidak selalu, semua diluar prediksi.

Salah tingkah adalah respon paling tidak diinginkan setiap orang pastinya, tapi malam itu aku tak luput dari salah tingkah. Sumpah dalam pikiran yang terbesit saat itu adalah “Sumpaah gue bingung mau ngomong apa, jadi gue mau balik aja”

Perhatianku sebenarnya bukan tertuju pada orang yang aku nantikan malam itu, perhatianku teralih pada satu pria yang sudah lama aku tahu namanya karena sikapnya yang stay cool. Entahlah dari dulu sampai sekarang sesuatu yang statis dan antik selalu membuat penasaran...
Meski pertemuan dengan laki-laki itu tidak begitu mendalam tapi tetap meninggalkan kesan.  Pertanyaannya , apa aku jatuh cinta? Lagi?





Senin, 16 Juni 2014

Filosofi atau Filosofi (Jeans Belel.Cleo.Kemeja Kotak-Kotak) !


SOON!











Salam Jeans Belel!
  
oke .. entah ini lanjutan dari episode yang sebelumnya, atau cerita baru yang tak sengaja kuurai dengan pena lama, halaman baru, dan mungkin masih dengan perasaan dan suasana yang sama dengan sebelumnya..
mungkin cerita kali ini bisa berbeda sedikit, sebagian, atau seluruhnya, ya kemudian aku hanya membebaskan semua yang tertulis malam ini.

matahari mungkin dengan cepat segera meninggalkan peraduannya dan menyibakkan bulan yang menerangi malam gelap, anehnya tak satupun rasa lelah yang aku rasakan hari ini, entah karena memang terbiasa atau aku yang memaksa membiasakan diri dengan semua ini. bahkan setelah aku menelan dua butir ajaib si pembuat tidur tak jua berujung dengan rasa kantuk. semua mungkin merasa aneh dengan kebiasaanku ini dan mulai mengusik dengan membuat sedikit beriak pada air tenang...

menatap dinding putih dan kulihat serta kemeja kotak-kotak yang sudah sedikit usang dan berubah warna , bahkan terlihat sangat jelas bekas luka jahitannya yang coba aku obati dengan benang yang tak sama rupa dan warna. mungkin memang seharusnya sudah dibuang dan menjadi kemeja masalalu. hmm dan jeans belel itu sudah berwarna biru tua sebelumnya dan sekarang sudah bertransformasi menjadi warna coklat pekat. mungkin karena sudah terlalu banyak noda yang menempel di dalamnya noda yang tidak sengaja menempel, di tempelkan orang lain, atau aku yang dengan sengaja menempelnya, ya entahlah.

melepaskan keduanya bagai melepaskan masalalu dan seolah-olah aku tidak tahu terimakasih kepada mereka teman masalalu-ku. ya mungkin jika memang harus dilepaskan nanti jika saatnya sudah tepat saat benar-benar sudah tidak bisa kupakai lagi karena memang sudah tidak bisa kumasukan satu kaki pun.

dan saat kemeja-ku satu persatu bagian kancingnya terlepas karena memang sudah tidak mau terkait lagi dengan kaitannya. aku yakin kalau mereka pun ingin aku melepaskannya sebelum mereka sendiri yang meminta untuk benar-benar dilepaskan. mungkin aku yang terlalu egois hingga tak mau melepaskan walau hanya salah satunya. aku terus saja memakainya setiap saat seperti saat mereka masih bagus dulu. aku malas memilih yang lain , entah itu yang lebih bagus, yang lebih mahal atau lebih bermerek. malas juga harus membiarkan setiap tubuh, kulit, hidung, dan kaki-tangan ku untuk menyesuaikan lagi dengan situasinya, dengan mereknya, dengan ukurannya, tidak juga dengan merek dan kualitas kainnya. yang lama memang sudah usang tapi dulu pun masih bersinar dan baru seperti yang sekarang.

mungkin itu sebabnya kenapa aku susah untuk beradaptasi dengan sekitarku yang memang serba baru setiap saatnya, langit yang juga berganti dengan langit yang sama setiap harinya tapi mungkin dengan suasana dan cuaca yang berbeda, udara yang berganti dengan udara lain yang berbeda, orang-orang yang berganti sejalan dengan dimana aku memijakkan kaki. sebenarnya terlepas dari itu baru atau lama semua merasakannya , jeans lama dan kemeja lamaku juga dulunya baru, dan jeans baru pun nanti akan menjadi lama setelah ada lagi yang lainnya.

renungkan, sesuatu yang ada dimasa lalu berupa kenangan itu bisa saja datang dari masa depan atau sebaliknyas sesuatu yang bernama masa depan itu berawal dari yang namanya masa lalu. yang terpenting adalah keseimbangan dan penyeimbang, yang sekarang kita akan tapaki adalah masa depan yang membutuhkan masa lalu untuk menunjukan seperti apa medannya dan memberi arah kemana medannya harus membawanya. tidak perlu takut dengan segala kemungkinan yang akan terjadi pada jeans bellel dan kemeja kotak-kotak baru yang menandakan masa depan, karena sebagian dari mereka pernah ada dimasa lalu pernah kita pakai.

 Yang perlu kita lakukan adalah sedikit menengok kebelakang dan terus melihat kedepan!



Karma Chameleon!

Jumat, 21 Maret 2014

"Malam ku tak sama, siang ku berbeda, setiap hariku tak seperti mereka"

Aku bukan, dia bukan, kita juga bukan, tidak Ada siapapun yang perintahkan untuk masuk

Ketika tak mengetuk  pintu tak seorang pun tahu jika marmut berkepala hitam itu meronta kesakitan, Bahkan jika angin Dan pohan pinus itu tahu tentang semua pilu nya takkan ubah sedikit pun tentang kesakitan nya...

Malang sekali tak pernah riang
Lebih malang tak bisa pulang
Pulang pun tak Ada tempat
Bagai bahagia yang terus hanya jadi cita-cita

Siapa peduli dengan teriakannya 
"Aku lapar" "aku ingin berteriak aku Lelah"
Setiap hari ku berteman dengan peluh Dan Jala usang
Tempat ku bermimpi hanya sekelebat dus usang Dan lampu Teras pertokoan..

Seperti mati rasa , aku tak rasa kan kesakitan, kedinginan, Dan perasaan lainnya...

Aku tak marah jika nasibku harus seperti ini, tapi tak ku biar kan anak-istriku jadi salah Satu diantaranya..

Aku tak ingin dipanggil ayah yang hebat..
Aku laki-laki biasa yang punya orang-orang yang bisa buat ku hebat...


(Tulisan ini says buat saat tidak sengaja says melihat seorang lelaki setengah baya yang menggenggam erat uang ribuan, mengusap dahinya dengan baju yang sudah usang Dan terlihat sedang menatap dunia dengan nanar keangkuhan)

Karya: jhaihan Farah nabila


Senin, 05 Agustus 2013

" KOPI "

“Catatan Cinta. Secangkir Kopi”








Story by Jhaihan Farah Nabila (BAYA)
Jatuh cinta itu indah, kelihatannya, aku juga tidak tahu seperti apa warna dari cinta. Semua orang hanya menggambarkan cinta itu seperti bentuk hati dan berwarna merah muda. Anehnya lagi hanya simbol cinta lah yang tidak memiliki arti tersurat, tidak seperti lingkaran yang melambangkan kebersamaan dan suatu totalitas di setiap sisinya yang tertutup satu sama lain. Sudahlah, mungkin simbol cinta memang sudah ada sejak dulu dan pasti ada yang menciptakannya, entah siapa mungkin saja dua pasangan yang memang sedang jatuh cinta bisa saja dulu adam dan hawa melakukannya, mungkin awalnya mereka hanya mau mengabadikan kisah mereka berdua supaya anak dan cucunya nanti melihat betapa indahnya kasih mereka.

 Jika cinta hanya sebuah nama kenapa hati bisa merasakan kebahagiaan dan rasa sakitnya. Lalu apa cinta itu hanya seoonggok tak berwujud yang bernama perasaan, namun kenapa tubuh ini terasa hangat seperti dalam dekap sayap malaikat saat berucap cinta, dan kenapa bibir ini mengatup kuat-kuat saat merasakan kehangatan cinta dan begitu menikmatinya. Lalu apa artinya itu bukan hanya sebuah perasaan tak berwujud, oh mungkin saja itu seperti kunang-kunang yang akan terlihat dan dinikmati keindahannya saat dalam ketenangan dan hilang saat suara berisik ombak dan deruh angin mengusiknya. Mungkin saja.

Berjuta-juta tahun berlalu dan berganti jaman lainnya belum ada yang bisa memasukan dalam kategori apakah cinta. Semakin itu ditanyakan semakin banyak jawaban yang berahir sebuah pertanyaan baru lainnya. Entah manusia yang terlalu naif atau memang ini tidak terkontrol dan artinya berjalan begitu saja. Ada dua sisi kehidupan saat kita merasakan cinta, saat kita jatuh didalam keindahan cinta seolah-olah raga ini tidak bisa menolaknya dan menganggap-nya lebih indah dari keindahan lembah kasih, menganggapnya lebih hangat dari dekap seorang ibu, menganggapnya lebih bercahaya dibanding dengan kilatan andromeda dilangit. Entahlah percaya atau tidak bukan aku saja yang merasakan hal itu. Dan sisi lainnya saat cinta kembali pergi, keindahan, kehangatan, dan gejolak lainnya lenyap seketika berganti musim menjadi sebuah hujan debu vulkanik yang menggenangi dan menyeruak kedalam raga, dinginnya seperti ada di dalam bongkahan es, terkurung didalamnya sendirian, telinga serasa dibuatnya tuli, juga mata yang dibuatnya seketika buta dan hanya berwarna hitam sesekali abu-abu. Sakitnya seperti tertusuk belati dilumuri racun panah. Seketika semua keindahan. Radam.

Semuanya sebenarnya bukan lenyap seperti yang ku bilang tadi hanya saja berganti satu sama lainnya. Tidak ada cinta yang seperti edelweis yang abadi. Salah satunya ada yang abadi mungkin tapi tidak selamanya, cinta abadi pun akhirnya harus berhadapan dengan perpisahan yaitu kematian. Sebagian dari manusia yang merasakan sisi pertama mungkin akan meminta tuhan dan waktu untuk menghentikan perputarannya, alasannya adalah tidak ingin merasakan sisi lain dari cinta yang tidak mereka ketahui apa rasanya. Sebagian lainnya yang terlanjur merasakan sisi kedua mungkin memilih untuk mengakhirinya sebelum memulainya, dengan kata lain adalah menolaknya.
Membuatnya layu sebelum berkembang, membuatnya gugur di musim panas, membuatnya berhenti sebelum mencapai jalan buntu. Manusia sebenarnya sudah diberikan kesempatan untuk memilih dari awalnya, hanya bodohnya mahluk yang bernama manusia adalah saat dia memilih untuk bahagia selalu tidak siap untuk . merasakan penderitaan dalam kebahagiaan. Terlalu berlarut dalam elegi karena cinta dan mulai berpikir bahwa setiap keindahan itu berahir dengan sebuah penderitaan begitupun dalam cinta.  Aku hanya berpikir bahwa setiap keindahan yang hilang karena penderitaan itu pasti dipertemukan dengan keindahan lainnya. Entahlah itu hanya bisikan secangkir kopi yang menemaniku dimalam ini. Malam tepat dimana aku merasakan sesuatu perasaan yang tidak bisa aku katakan pada manusia lainnya, kemelut dalam air tenang. Dimalam lain sebelumnya aku melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan malam ini, menyeduh secangkir halusan biji robusta hanya bedanya dulu aku tidak menambahkan creamer didalamnya dan dulu aku meminumnya sekaligus sehingga yang kudapat adalah perasaan seperti terbakar dalam lidah, sakit, bodohnya aku padahal aku sendiri yang menuangkan kopinya dan aku sudah tahu kalau aku menggunakan air panas untuk menyeduhnya mengapa aku meminumnya tidak dengan hati, tergesa-gesa.
Namun sepertinya secangkir kopi malam ini lebih nikmat dari sebelumnya, aku mencampur sebagian airnya dengan ari dingin sehingga slruuup terasa hangat dan tidak menyakiti lidahku, dan rasanya lebih lembut mungkin karena aku tambahkan creamer didalam campuran molekulnya dan tentu mungkin karena aku mengaduknya secara perlahan dan sangat hati-hati.  Dan terbayang tidak kalau filosofi kopi tadi mungkin sama halnya dengan cinta. Jika awalnya saja sudah tergesa-gesa dengan perasaannya tanpa memperhitungkan nya seperti menyeduh kopi dengan air panas tanpa menambah air dingin , bukan kenikmatan dan kenyamanan tapi malah menyakiti sesuatu lainnya kalau kopi panas itu menyakiti lidah karena rasa panasnya, sama halnya dengan hati. Lalu kenapa kamu tidak memulainya dengam cara kedua, dengan menyeduh kopi dengan dua jenis air berbeda yang satu panas dan satunya dingin dimana akan ada sesuatu yang baru yang tidak panas dan tidak dingin tapi hangat, kamu bingung bukan awalnya, karena kopi hanya cepat larut dalam air panas tapi apalah gunanya kalau kopi larut dengan air panas jika tidak bisa kamu minum karena lidahmu bisa terbakar arang habis dibuatnya. Kenapa kamu tidak tambahkan sesuatu yang baru untuk menyempurnkan cintamu  karena seperti kopi kalau hanya kopi saja tanpa gula rasanya pasti pahit, bahkan kamu bisa tambahkan kelembutan lainnya dengan creamer td.
Bagaimana? Sebenarnya semuanya pun tergantung bagaimana kamu membuatnya dan menikmatinya.
Kembali pada cinta dan apa artinya itu tergantung pada siapa yang merasakannya, jika saja seorang pujangga yang merasakannya mungkin cinta itu syair tak bertuan. Jika seorang penyanyi yang merasakannya mungkin itu adalah lagu yang dinyanyikannya atau lagu yang tidak ingin dinyanyikannya. Yang perlu diingat adalah tidak ada cinta yang tidak dikatakan kecuali yang mencintai dirinya sendiri, soal itu sebuah keindahan atau penderitaan nantinya, anggap saja itu musim yang dimana sekarang itu adalah kebahagiaan maka pasti akan berganti dengan musim lainnya yang bernama penderitaan, percayalah itu pasti terus berganti, tidak ada yang terus menerus terjebak dalam kebahagiaanya atau terperangkap dalam penderitaannya. Pasti berganti, pasti berubah dan pasti ada akhir dan awal yang berikutnya.
Terimakasih semesta
Bukan Pujangga, Karma Chameleon





!

"E+B= R(notittle)"





Story by: Jhaihan F Nabila(BAYA)


Rasanya bukan sebulan aku berada di kota ini, baru empat minggu saja tubuhku sudah dibuat serasa bertahun-tahun di Paris.
Tiap detiknya aku lalui dengan menikmati elegi cinta disetiap sudutnya, memanjakan mataku dengan eksotiknya setiap ukiran di Arch de Triomphe, membiarkan tubuhku menikmati setiap kilauan cahaya yang seakan mengalahkan jutaan bintang yang gemintang tiap malamnya, ya Menara Eifel. Berjuta keindahan dengan gaya neo klasik khas Paris terus saja menggoda ku untuk bahagia bersama semua yang ada disini. Aneh jika aku menolak semuanya karena merindukan sesuatu di masa  lalu. Keindahan yang belum selesai aku nikmati sampai akhir, tempat yang seharusnya menjadi penyebab kenapa aku mau memijakan kaki di tanah luar.
Disini aku menghabiskan setiap hari ku dengan secangkir cairan pekat beraroma robusta, menulis ribuan syair yang tak bertuan karena aku memang tidak mau syair-syair yang ku tulis ini ada yang menerima atau menolak. Hanya menikmati sisa-sisa kehidupan itu lah alasan kenapa aku di sini.
Masalalu yang membawaku kedalam sebuah masa depan, seperti terancam serangan meriam, bagai akan masuk kedalam jelaga pekat penuh racun jingga, seperti itu rasanya aku jika memandang masa lalu. Orang bilang duniaku yang sekarang seperti dunia peri orang bilang juga alur cerita hidupku ini bagaikan rajutan dongeng dimana aku yang menjadi tokoh utamanya. Hidup dalam jutaan angan dan impian memang bukan sebuah keinginan karena harus terus memusuhi realita, hingga akhirnya aku membangun duniaku sendiri, duniaku yang sekarang.  Barangkali memang harus seperti ini karena faktanya manusia memang terlahir untuk mengasingkan dirinya sendiri, mengasingkan jiwanya dari teman-temannya, dari cerita masalalunya, bahkan dari takdir nya di masa depan.
Tidak ada salahnya kalau mau menjadi awan. Awan ringan, menggumpal berwarna putih secara kasat mata, menghilang menyisakan hujan, lalu kembali lagi dan entah kapan, bereksplorasi dalam evaporasi.  Jika memang harus jadi baru karena tidak mau menghadapi yang lama kenapa tidak.
Aku bukan menulis cerita tentang jutaan bintang atau jutaan keindahan lainnya, aku menulis cerita tentang diriku sendiri yang kubuat alurnya seperti sesuai padahal tidak. Alasan terbaikku menulis adalah membuat semua hayalanku yang tidak berwujud menjadi sebuah tulisan di atas kertas putih dalam batas kenyataan. Anggap saja ini sebagian dari cerita ku untuk aku bagikan pada setiapnya yang mengalami hal yang sama dan serupa dengan-ku.
Dulu aku hanya berucap kebohongan karena aku tidak suka cerita kenyataan hidupku, aku bahkan mengganti setiapnya yang ada di hidup-ku, memunculkan tokoh baru yang sama sekali tidak tahu berasal dari mana, membuat diri sendiri lama-lama muak karena harus terus berbohong. Ternyata bukan aku saja yang muak dan bukannya kebahagiaan yang aku dapat dari semua kebohongan itu tapi suatu titik jemu yang penuh benang kepalsuan dan di situ aku hanya berdiri sendiri menyesal karena tidak tau apa yang telah aku lakukan pada mereka, saat itu yang hanya bisa aku lakukan adalah menyalahkan yang bisa aku salahkan menangisi apa yang bisa aku sesali siapa lagi kalau bukan mahluk tak berdosa yang bernama takdir. Aku membenci semuanya saat itu termasuk diriku sendiri, aku bahkan menyalahkan tuhan yang tahu segalanya. Selesai hari itu aku menyibak dengan sebuah hari baru di tempat yang baru dan orang-orang yang baru , sengaja ku pilih tempat lain agar aku bisa terbebas dari mata-mata kebencian di masa lalu dan harapan dapat bersenang-senang di masa depan, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengulangnya, mengulang semua hayalan masa lalu.
Aku tidak tahu ini sebuah penyakit atau wabah yang berasal darimana dan oleh siapa penyebabnya, nyatanya aku mengulangnya lagi dikehidupanku di masa berikutnya, aku membaca lagi satu cerita dan menyukai tokoh cerita dan alur cerita di dalamnya, aku suka kesedihan yang ada dalam setiap novel yang aku baca karena selalu berujung dengan kebahagiaan. Malam itu aku membaca sebuah kisah neo klasik berjudul “Perahu Kertas” dan aku suka kugy, dan menurutku kugy mirip denganku dan terlebih lagi aku juga suka keenan, tak perlu ribuan tahun untukku mempelajari setiap bab ceritanya  dalam waktu satu hari dan satu kali membacanya aku sudah bisa menciptakan dunia baruku, dunia di mana aku menyakini sesuatu tentang hidupku dunia di mana aku yakin kalau aku adalah apa yang kugy lakukan, ucapan ku adalah apa yang kugy ucapkan, dan hatiku adalah aoa yang kugy rasakan, tidak perlu bercermin untuk melihat semirip apa aku dengan kugy, orang-orang sekelilingku bisa tahu dari mana setiap keanehan ini berasal, jika saja masih dalam batas wajar mungkin masih mereka maklumi tapi semuanya selalu diluar batas, dan untuk ku yang tidak mengerti seperti apa batasnya bagaimana warna dan bentuk batasnya, fatal. Aku bukan hanya menciptakan fatamorgana dalam karakter ku tapi juga duniaku yang aku sesuaikan dengan dunia novel itu, warna dunianya, aroma udaranya, dan bentuk dunianya, namun saat semua yang aku ciptakan itu kembali lenyap karena kenyataan yang selalu berusaha memerangi sebuah imajinasi, harus hilang seketika karena memang benar tidak ada, rasa sakit bagai terjatuh dari atas Himalaya kembali aku rasakan, dokter bodoh itu meungkin saja memfonis ku gila karena mengalami suatu distorsi realitas yang parah, dan terus memberiku butiran kapsul yang dengan sekejap akan membuat aku tidur dan berpisah sejenak dengan duniaku. Mereka tidak tau kalau satu aja kapsul yang mereka berikan untuk menenangkanku itu sama dengan satu mimpi buruk dalam tidur ku.
Karena kenyataan terus saja memusuhi semua yang aku mau, aku membuat dunia ku sendiri dengan aturanku dan hanya aturanku yang berlaku, persetan dengan aturan bodoh dunia mereka. Akhirnya harus terasing dengan dunia mereka yang dulu juga adalah duniaku. Aku bertahan sampai akhir dan terus berteman dan mempercayai setiap hayalanku yang jadi kenyataan di duniaku yang sekarang, namun seperti es batu yang awalnya kuat dan keras  letih dan meleleh dan meluluhkan partikelnya dan sedikit demi sedikit menjadi air yang berarti harus masuk kedalam sebuah aliran dan kembali pada peraduan yaitu arusnya, begitu pula hayalan yang kembali hanya menjadi sebuah impian karena  dibentur kenyataan yang bertolak pada nya. Kembali terjatuh pada lubang yang tidak asing karena sama seperti sebelumnya menyisakan penat yang merelakan diri pada sebatang pohon yang kayunya sangat rapuh.
Aku sangat lelah dan sangat ingin mengakhiri semua ini dengan mengahiri hidup ku juga, mencoba menusukan sebilah stainless tajam kedalam detakan nadi, dan keluarlah cairan pekat kemerahan darinya, memejamkan sedikit demi sedikit mataku karena merasakan sakitnya racun panah itu dan berharap aku akan terbangun di tempat indah di surga loka. Membukakan mata dan aku lihat sekelilingku hanya berwarna putih dan seperti ada benda menancap di tangan kananku sesuatu berbentuk cairan yang masuk sedikit demi sedikit sampai banyak kedalam tubuhku, yang ku dengar bukan suara malaikat yang membangunkanku untuk mengajakku ke kehidupan abadi bersama edelweis, tapi tangisan dari mulut seorang wanita yang sangat lelah melihat setiap kemelut yang kubuat, benci sekali aku melihat nya menangis terlebih menangisi ku, rasanya lebih sakit dari tertusuk belati emas beracun.  Bodohnya aku bermaksud hanya membuat semua masalah selesai dengan menghilang dari dunia ini tapi malah membuat yang tidak seharusnya terjadi malah terjadi.
Hari setelah hari itu selesai adzan subuh dikumandangkan dan selagi fajar menyingsingkan lengannya hendak siap-siap untuk menyibak malam, aku melihatnya mendahahkan tangannya dalam dekap doa dan butiran air mata, tanpa tenaga sedikit pun hanya angin yang mendirong ku untuk melangkah dan memeluknya dan menangis sejadi jadinya dan berucap dalam tangis “ibu tolong aku, selamatkan aku”. Aku salah kalau aku berpikir selama ini aku hanya menangis sendirian ternyata wanita ini pun menangisi hal yang sama, menangisiku. Berjanji pada diri sendiri dan menyalahkan diri sendiri itu yang sementara bisa aku lakukan, mungkin inilah yang aku butuhkan selama ini untuk pergi dari semua ketololan duniaku sebuah harapan, bukan dari seorang pangeran berkuda putih yang selama ini ada dalam duniaku, bukan seorang peri yang selama ini ada dalam setiap tulisan ceritaku,  Wonder Woman Tak Bersayap mungkin seperti itu aku memanggilnya.
“kalau memang kamu terlalu takut dengan semua impian kamu itu tidak jadi sebuah realita, tulis itu dalam sebuah kisah dan biarkan semua orang tau semua hayalanmu itu dan berkaca pada kisahnya”
“kalau kamu takut kamu bisa pejamkan mata mu untuk sekejap dan biarkan semua impianmu berada pada tempat dimana semestinya”
“kalau semua dongengmu itu indah awalnya tidak “mesti juga harus indah akhirnya kan, anggap itu novel misteri yang tidak selalu harus happy ending”
“berhenti hanya menjadi seorang penikmat cerita orang lain dan terjebak pada alur didalamnya dan buat  alur mu sendiri supaya tidak terjerat terus lah berpegangan pada satu baja  yang kuat yang bernama tekad”
“jadi seperti apapun kamu di masalalu jangan serta merta harus menjadikan seperti apa kamu dimasa mendatang, karena bukan tidak mungkin semua yang kamu tulis itu akan menjadi sebuah ceritamu yang happy ending sebenarnya”
“yang terpenting adalah, bebaskan dirimu, bukan membiarkannya terbang”

Sekarang banyak tulisan ku yang mereka baca, banyak dari mereka terjerat juga kedalam alur cerita yang kubuat mungkin akan ada aku yang lain yang tidak boleh sama seperti ku, menjadi inspirator bagi setiap orang yang susah bergerak dan terkurung dalam sangkar hitam pekat, membuat film dengan hayalanku sebagai tokohnya bahkan tentang diriku sendiri, tidak takut terjatuh lagi karena kini hayalanku berteman dengan realita, menjadi penulis dan mengakui setiap dosa lewat tulisan berharap tidak ada lagi dosa ini dikemudian hari, berbagi duniaku dengan mereka yang ada di kenyataan, memebiarkan mereka menagis dan tertawa bersama setiap tulisanku, “Best Seller”
Siapa sangka aku bisa menjadi apa aku sekarang dan kemudian, karena satu harapan, dan tekad yangbernama  “Kemauan”, didukung dengan terapi ku dalam setiap mata kuliah yang aku ambil awalnya aku tidak menyangka aku akan mengobati diriku sendiri degan tulisanku, dan berdiri di atas gelar yang aku ambil sekarang sebagai seorang neuroppsikolog dan seorang penulis, dikota baru di paris dan mungkin akan berpindah ke kota lainnya atau benua lainnya yang jelas tidak menggeser dunia.
“kalau memang terlalu takut untuk bangun dan berdiri cukup hanya membuka mata saja kamu bisa merubah duniamu, dunia orang lain, dan apa yang kamu mau selama usahamu mengalahkan kemauanmu”
Kisah ini aku tulis bukan untuk dibaca dan ditinggalkan begitu saja tapi untuk diingat bahwa di dunia ini tidak pernah ada manusia bodoh  dan manusia sempurna, yang ada hanya yang mau berusaha jika hasilnya tidak sesuai mungkin akan ada lainnya yang lebih indah. Yang perlu dilakukan hanya percaya pada diri sendiri dan mengusahakannya.



SELESAI HARI INI tapi BUKAN AKHIR