"E+B= R(notittle)"
Story by:
Jhaihan F Nabila(BAYA)
Rasanya bukan sebulan aku berada
di kota ini, baru empat minggu saja tubuhku sudah dibuat serasa bertahun-tahun
di Paris.
Tiap detiknya aku lalui dengan
menikmati elegi cinta disetiap sudutnya, memanjakan mataku dengan eksotiknya
setiap ukiran di Arch de Triomphe, membiarkan tubuhku menikmati setiap kilauan
cahaya yang seakan mengalahkan jutaan bintang yang gemintang tiap malamnya, ya
Menara Eifel. Berjuta keindahan dengan gaya neo klasik khas Paris terus saja
menggoda ku untuk bahagia bersama semua yang ada disini. Aneh jika aku menolak
semuanya karena merindukan sesuatu di masa
lalu. Keindahan yang belum selesai aku nikmati sampai akhir, tempat yang
seharusnya menjadi penyebab kenapa aku mau memijakan kaki di tanah luar.
Disini aku menghabiskan setiap
hari ku dengan secangkir cairan pekat beraroma robusta, menulis ribuan syair
yang tak bertuan karena aku memang tidak mau syair-syair yang ku tulis ini ada
yang menerima atau menolak. Hanya menikmati sisa-sisa kehidupan itu lah alasan
kenapa aku di sini.
Masalalu yang membawaku kedalam
sebuah masa depan, seperti terancam serangan meriam, bagai akan masuk kedalam
jelaga pekat penuh racun jingga, seperti itu rasanya aku jika memandang masa
lalu. Orang bilang duniaku yang sekarang seperti dunia peri orang bilang juga
alur cerita hidupku ini bagaikan rajutan dongeng dimana aku yang menjadi tokoh
utamanya. Hidup dalam jutaan angan dan impian memang bukan sebuah keinginan
karena harus terus memusuhi realita, hingga akhirnya aku membangun duniaku
sendiri, duniaku yang sekarang.
Barangkali memang harus seperti ini karena faktanya manusia memang terlahir
untuk mengasingkan dirinya sendiri, mengasingkan jiwanya dari teman-temannya,
dari cerita masalalunya, bahkan dari takdir nya di masa depan.
Tidak ada salahnya kalau mau
menjadi awan. Awan ringan, menggumpal berwarna putih secara kasat mata,
menghilang menyisakan hujan, lalu kembali lagi dan entah kapan, bereksplorasi
dalam evaporasi. Jika memang harus jadi
baru karena tidak mau menghadapi yang lama kenapa tidak.
Aku bukan menulis cerita tentang
jutaan bintang atau jutaan keindahan lainnya, aku menulis cerita tentang diriku
sendiri yang kubuat alurnya seperti sesuai padahal tidak. Alasan terbaikku
menulis adalah membuat semua hayalanku yang tidak berwujud menjadi sebuah
tulisan di atas kertas putih dalam batas kenyataan. Anggap saja ini sebagian
dari cerita ku untuk aku bagikan pada setiapnya yang mengalami hal yang sama
dan serupa dengan-ku.
Dulu aku hanya berucap kebohongan
karena aku tidak suka cerita kenyataan hidupku, aku bahkan mengganti setiapnya
yang ada di hidup-ku, memunculkan tokoh baru yang sama sekali tidak tahu
berasal dari mana, membuat diri sendiri lama-lama muak karena harus terus
berbohong. Ternyata bukan aku saja yang muak dan bukannya kebahagiaan yang aku
dapat dari semua kebohongan itu tapi suatu titik jemu yang penuh benang
kepalsuan dan di situ aku hanya berdiri sendiri menyesal karena tidak tau apa
yang telah aku lakukan pada mereka, saat itu yang hanya bisa aku lakukan adalah
menyalahkan yang bisa aku salahkan menangisi apa yang bisa aku sesali siapa
lagi kalau bukan mahluk tak berdosa yang bernama takdir. Aku membenci semuanya
saat itu termasuk diriku sendiri, aku bahkan menyalahkan tuhan yang tahu
segalanya. Selesai hari itu aku menyibak dengan sebuah hari baru di tempat yang
baru dan orang-orang yang baru , sengaja ku pilih tempat lain agar aku bisa
terbebas dari mata-mata kebencian di masa lalu dan harapan dapat
bersenang-senang di masa depan, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak
mengulangnya, mengulang semua hayalan masa lalu.
Aku tidak tahu ini sebuah
penyakit atau wabah yang berasal darimana dan oleh siapa penyebabnya, nyatanya
aku mengulangnya lagi dikehidupanku di masa berikutnya, aku membaca lagi satu
cerita dan menyukai tokoh cerita dan alur cerita di dalamnya, aku suka
kesedihan yang ada dalam setiap novel yang aku baca karena selalu berujung dengan
kebahagiaan. Malam itu aku membaca sebuah kisah neo klasik berjudul “Perahu
Kertas” dan aku suka kugy, dan menurutku kugy mirip denganku dan terlebih lagi
aku juga suka keenan, tak perlu ribuan tahun untukku mempelajari setiap bab
ceritanya dalam waktu satu hari dan satu
kali membacanya aku sudah bisa menciptakan dunia baruku, dunia di mana aku
menyakini sesuatu tentang hidupku dunia di mana aku yakin kalau aku adalah apa
yang kugy lakukan, ucapan ku adalah apa yang kugy ucapkan, dan hatiku adalah
aoa yang kugy rasakan, tidak perlu bercermin untuk melihat semirip apa aku
dengan kugy, orang-orang sekelilingku bisa tahu dari mana setiap keanehan ini
berasal, jika saja masih dalam batas wajar mungkin masih mereka maklumi tapi
semuanya selalu diluar batas, dan untuk ku yang tidak mengerti seperti apa
batasnya bagaimana warna dan bentuk batasnya, fatal. Aku bukan hanya
menciptakan fatamorgana dalam karakter ku tapi juga duniaku yang aku sesuaikan
dengan dunia novel itu, warna dunianya, aroma udaranya, dan bentuk dunianya,
namun saat semua yang aku ciptakan itu kembali lenyap karena kenyataan yang
selalu berusaha memerangi sebuah imajinasi, harus hilang seketika karena memang
benar tidak ada, rasa sakit bagai terjatuh dari atas Himalaya kembali aku
rasakan, dokter bodoh itu meungkin saja memfonis ku gila karena mengalami suatu
distorsi realitas yang parah, dan terus memberiku butiran kapsul yang dengan
sekejap akan membuat aku tidur dan berpisah sejenak dengan duniaku. Mereka
tidak tau kalau satu aja kapsul yang mereka berikan untuk menenangkanku itu
sama dengan satu mimpi buruk dalam tidur ku.
Karena kenyataan terus saja
memusuhi semua yang aku mau, aku membuat dunia ku sendiri dengan aturanku dan
hanya aturanku yang berlaku, persetan dengan aturan bodoh dunia mereka.
Akhirnya harus terasing dengan dunia mereka yang dulu juga adalah duniaku. Aku
bertahan sampai akhir dan terus berteman dan mempercayai setiap hayalanku yang
jadi kenyataan di duniaku yang sekarang, namun seperti es batu yang awalnya
kuat dan keras letih dan meleleh dan
meluluhkan partikelnya dan sedikit demi sedikit menjadi air yang berarti harus
masuk kedalam sebuah aliran dan kembali pada peraduan yaitu arusnya, begitu
pula hayalan yang kembali hanya menjadi sebuah impian karena dibentur kenyataan yang bertolak pada nya.
Kembali terjatuh pada lubang yang tidak asing karena sama seperti sebelumnya
menyisakan penat yang merelakan diri pada sebatang pohon yang kayunya sangat
rapuh.
Aku sangat lelah dan sangat ingin
mengakhiri semua ini dengan mengahiri hidup ku juga, mencoba menusukan sebilah
stainless tajam kedalam detakan nadi, dan keluarlah cairan pekat kemerahan
darinya, memejamkan sedikit demi sedikit mataku karena merasakan sakitnya racun
panah itu dan berharap aku akan terbangun di tempat indah di surga loka.
Membukakan mata dan aku lihat sekelilingku hanya berwarna putih dan seperti ada
benda menancap di tangan kananku sesuatu berbentuk cairan yang masuk sedikit
demi sedikit sampai banyak kedalam tubuhku, yang ku dengar bukan suara malaikat
yang membangunkanku untuk mengajakku ke kehidupan abadi bersama edelweis, tapi
tangisan dari mulut seorang wanita yang sangat lelah melihat setiap kemelut
yang kubuat, benci sekali aku melihat nya menangis terlebih menangisi ku,
rasanya lebih sakit dari tertusuk belati emas beracun. Bodohnya aku bermaksud hanya membuat semua
masalah selesai dengan menghilang dari dunia ini tapi malah membuat yang tidak
seharusnya terjadi malah terjadi.
Hari setelah hari itu selesai
adzan subuh dikumandangkan dan selagi fajar menyingsingkan lengannya hendak
siap-siap untuk menyibak malam, aku melihatnya mendahahkan tangannya dalam
dekap doa dan butiran air mata, tanpa tenaga sedikit pun hanya angin yang
mendirong ku untuk melangkah dan memeluknya dan menangis sejadi jadinya dan
berucap dalam tangis “ibu tolong aku, selamatkan aku”. Aku salah kalau aku
berpikir selama ini aku hanya menangis sendirian ternyata wanita ini pun
menangisi hal yang sama, menangisiku. Berjanji pada diri sendiri dan
menyalahkan diri sendiri itu yang sementara bisa aku lakukan, mungkin inilah
yang aku butuhkan selama ini untuk pergi dari semua ketololan duniaku sebuah
harapan, bukan dari seorang pangeran berkuda putih yang selama ini ada dalam
duniaku, bukan seorang peri yang selama ini ada dalam setiap tulisan
ceritaku, Wonder Woman Tak Bersayap
mungkin seperti itu aku memanggilnya.
“kalau memang kamu terlalu takut
dengan semua impian kamu itu tidak jadi sebuah realita, tulis itu dalam sebuah
kisah dan biarkan semua orang tau semua hayalanmu itu dan berkaca pada
kisahnya”
“kalau kamu takut kamu bisa
pejamkan mata mu untuk sekejap dan biarkan semua impianmu berada pada tempat
dimana semestinya”
“kalau semua dongengmu itu indah
awalnya tidak “mesti juga harus indah akhirnya kan, anggap itu novel misteri yang
tidak selalu harus happy ending”
“berhenti hanya menjadi seorang
penikmat cerita orang lain dan terjebak pada alur didalamnya dan buat alur mu sendiri supaya tidak terjerat terus
lah berpegangan pada satu baja yang kuat
yang bernama tekad”
“jadi seperti apapun kamu di
masalalu jangan serta merta harus menjadikan seperti apa kamu dimasa mendatang,
karena bukan tidak mungkin semua yang kamu tulis itu akan menjadi sebuah
ceritamu yang happy ending sebenarnya”
“yang terpenting adalah, bebaskan
dirimu, bukan membiarkannya terbang”
Sekarang banyak tulisan ku yang
mereka baca, banyak dari mereka terjerat juga kedalam alur cerita yang kubuat
mungkin akan ada aku yang lain yang tidak boleh sama seperti ku, menjadi
inspirator bagi setiap orang yang susah bergerak dan terkurung dalam sangkar
hitam pekat, membuat film dengan hayalanku sebagai tokohnya bahkan tentang
diriku sendiri, tidak takut terjatuh lagi karena kini hayalanku berteman dengan
realita, menjadi penulis dan mengakui setiap dosa lewat tulisan berharap tidak
ada lagi dosa ini dikemudian hari, berbagi duniaku dengan mereka yang ada di
kenyataan, memebiarkan mereka menagis dan tertawa bersama setiap tulisanku,
“Best Seller”
Siapa sangka aku bisa menjadi apa
aku sekarang dan kemudian, karena satu harapan, dan tekad yangbernama “Kemauan”, didukung dengan terapi ku dalam
setiap mata kuliah yang aku ambil awalnya aku tidak menyangka aku akan
mengobati diriku sendiri degan tulisanku, dan berdiri di atas gelar yang aku ambil
sekarang sebagai seorang neuroppsikolog dan seorang penulis, dikota baru di
paris dan mungkin akan berpindah ke kota lainnya atau benua lainnya yang jelas
tidak menggeser dunia.
“kalau memang terlalu takut untuk
bangun dan berdiri cukup hanya membuka mata saja kamu bisa merubah duniamu, dunia
orang lain, dan apa yang kamu mau selama usahamu mengalahkan kemauanmu”
Kisah ini aku tulis bukan untuk
dibaca dan ditinggalkan begitu saja tapi untuk diingat bahwa di dunia ini tidak
pernah ada manusia bodoh dan manusia
sempurna, yang ada hanya yang mau berusaha jika hasilnya tidak sesuai mungkin
akan ada lainnya yang lebih indah. Yang perlu dilakukan hanya percaya pada diri
sendiri dan mengusahakannya.
SELESAI HARI INI tapi
BUKAN AKHIR