Senin, 05 Agustus 2013

" KOPI "

“Catatan Cinta. Secangkir Kopi”








Story by Jhaihan Farah Nabila (BAYA)
Jatuh cinta itu indah, kelihatannya, aku juga tidak tahu seperti apa warna dari cinta. Semua orang hanya menggambarkan cinta itu seperti bentuk hati dan berwarna merah muda. Anehnya lagi hanya simbol cinta lah yang tidak memiliki arti tersurat, tidak seperti lingkaran yang melambangkan kebersamaan dan suatu totalitas di setiap sisinya yang tertutup satu sama lain. Sudahlah, mungkin simbol cinta memang sudah ada sejak dulu dan pasti ada yang menciptakannya, entah siapa mungkin saja dua pasangan yang memang sedang jatuh cinta bisa saja dulu adam dan hawa melakukannya, mungkin awalnya mereka hanya mau mengabadikan kisah mereka berdua supaya anak dan cucunya nanti melihat betapa indahnya kasih mereka.

 Jika cinta hanya sebuah nama kenapa hati bisa merasakan kebahagiaan dan rasa sakitnya. Lalu apa cinta itu hanya seoonggok tak berwujud yang bernama perasaan, namun kenapa tubuh ini terasa hangat seperti dalam dekap sayap malaikat saat berucap cinta, dan kenapa bibir ini mengatup kuat-kuat saat merasakan kehangatan cinta dan begitu menikmatinya. Lalu apa artinya itu bukan hanya sebuah perasaan tak berwujud, oh mungkin saja itu seperti kunang-kunang yang akan terlihat dan dinikmati keindahannya saat dalam ketenangan dan hilang saat suara berisik ombak dan deruh angin mengusiknya. Mungkin saja.

Berjuta-juta tahun berlalu dan berganti jaman lainnya belum ada yang bisa memasukan dalam kategori apakah cinta. Semakin itu ditanyakan semakin banyak jawaban yang berahir sebuah pertanyaan baru lainnya. Entah manusia yang terlalu naif atau memang ini tidak terkontrol dan artinya berjalan begitu saja. Ada dua sisi kehidupan saat kita merasakan cinta, saat kita jatuh didalam keindahan cinta seolah-olah raga ini tidak bisa menolaknya dan menganggap-nya lebih indah dari keindahan lembah kasih, menganggapnya lebih hangat dari dekap seorang ibu, menganggapnya lebih bercahaya dibanding dengan kilatan andromeda dilangit. Entahlah percaya atau tidak bukan aku saja yang merasakan hal itu. Dan sisi lainnya saat cinta kembali pergi, keindahan, kehangatan, dan gejolak lainnya lenyap seketika berganti musim menjadi sebuah hujan debu vulkanik yang menggenangi dan menyeruak kedalam raga, dinginnya seperti ada di dalam bongkahan es, terkurung didalamnya sendirian, telinga serasa dibuatnya tuli, juga mata yang dibuatnya seketika buta dan hanya berwarna hitam sesekali abu-abu. Sakitnya seperti tertusuk belati dilumuri racun panah. Seketika semua keindahan. Radam.

Semuanya sebenarnya bukan lenyap seperti yang ku bilang tadi hanya saja berganti satu sama lainnya. Tidak ada cinta yang seperti edelweis yang abadi. Salah satunya ada yang abadi mungkin tapi tidak selamanya, cinta abadi pun akhirnya harus berhadapan dengan perpisahan yaitu kematian. Sebagian dari manusia yang merasakan sisi pertama mungkin akan meminta tuhan dan waktu untuk menghentikan perputarannya, alasannya adalah tidak ingin merasakan sisi lain dari cinta yang tidak mereka ketahui apa rasanya. Sebagian lainnya yang terlanjur merasakan sisi kedua mungkin memilih untuk mengakhirinya sebelum memulainya, dengan kata lain adalah menolaknya.
Membuatnya layu sebelum berkembang, membuatnya gugur di musim panas, membuatnya berhenti sebelum mencapai jalan buntu. Manusia sebenarnya sudah diberikan kesempatan untuk memilih dari awalnya, hanya bodohnya mahluk yang bernama manusia adalah saat dia memilih untuk bahagia selalu tidak siap untuk . merasakan penderitaan dalam kebahagiaan. Terlalu berlarut dalam elegi karena cinta dan mulai berpikir bahwa setiap keindahan itu berahir dengan sebuah penderitaan begitupun dalam cinta.  Aku hanya berpikir bahwa setiap keindahan yang hilang karena penderitaan itu pasti dipertemukan dengan keindahan lainnya. Entahlah itu hanya bisikan secangkir kopi yang menemaniku dimalam ini. Malam tepat dimana aku merasakan sesuatu perasaan yang tidak bisa aku katakan pada manusia lainnya, kemelut dalam air tenang. Dimalam lain sebelumnya aku melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan malam ini, menyeduh secangkir halusan biji robusta hanya bedanya dulu aku tidak menambahkan creamer didalamnya dan dulu aku meminumnya sekaligus sehingga yang kudapat adalah perasaan seperti terbakar dalam lidah, sakit, bodohnya aku padahal aku sendiri yang menuangkan kopinya dan aku sudah tahu kalau aku menggunakan air panas untuk menyeduhnya mengapa aku meminumnya tidak dengan hati, tergesa-gesa.
Namun sepertinya secangkir kopi malam ini lebih nikmat dari sebelumnya, aku mencampur sebagian airnya dengan ari dingin sehingga slruuup terasa hangat dan tidak menyakiti lidahku, dan rasanya lebih lembut mungkin karena aku tambahkan creamer didalam campuran molekulnya dan tentu mungkin karena aku mengaduknya secara perlahan dan sangat hati-hati.  Dan terbayang tidak kalau filosofi kopi tadi mungkin sama halnya dengan cinta. Jika awalnya saja sudah tergesa-gesa dengan perasaannya tanpa memperhitungkan nya seperti menyeduh kopi dengan air panas tanpa menambah air dingin , bukan kenikmatan dan kenyamanan tapi malah menyakiti sesuatu lainnya kalau kopi panas itu menyakiti lidah karena rasa panasnya, sama halnya dengan hati. Lalu kenapa kamu tidak memulainya dengam cara kedua, dengan menyeduh kopi dengan dua jenis air berbeda yang satu panas dan satunya dingin dimana akan ada sesuatu yang baru yang tidak panas dan tidak dingin tapi hangat, kamu bingung bukan awalnya, karena kopi hanya cepat larut dalam air panas tapi apalah gunanya kalau kopi larut dengan air panas jika tidak bisa kamu minum karena lidahmu bisa terbakar arang habis dibuatnya. Kenapa kamu tidak tambahkan sesuatu yang baru untuk menyempurnkan cintamu  karena seperti kopi kalau hanya kopi saja tanpa gula rasanya pasti pahit, bahkan kamu bisa tambahkan kelembutan lainnya dengan creamer td.
Bagaimana? Sebenarnya semuanya pun tergantung bagaimana kamu membuatnya dan menikmatinya.
Kembali pada cinta dan apa artinya itu tergantung pada siapa yang merasakannya, jika saja seorang pujangga yang merasakannya mungkin cinta itu syair tak bertuan. Jika seorang penyanyi yang merasakannya mungkin itu adalah lagu yang dinyanyikannya atau lagu yang tidak ingin dinyanyikannya. Yang perlu diingat adalah tidak ada cinta yang tidak dikatakan kecuali yang mencintai dirinya sendiri, soal itu sebuah keindahan atau penderitaan nantinya, anggap saja itu musim yang dimana sekarang itu adalah kebahagiaan maka pasti akan berganti dengan musim lainnya yang bernama penderitaan, percayalah itu pasti terus berganti, tidak ada yang terus menerus terjebak dalam kebahagiaanya atau terperangkap dalam penderitaannya. Pasti berganti, pasti berubah dan pasti ada akhir dan awal yang berikutnya.
Terimakasih semesta
Bukan Pujangga, Karma Chameleon





Tidak ada komentar:

Posting Komentar