“Catatan
Cinta. Secangkir Kopi”
Story
by Jhaihan Farah Nabila (BAYA)
Jatuh cinta itu indah, kelihatannya, aku juga tidak tahu seperti apa
warna dari cinta. Semua orang hanya menggambarkan cinta itu seperti bentuk hati
dan berwarna merah muda. Anehnya lagi hanya simbol cinta lah yang tidak
memiliki arti tersurat, tidak seperti lingkaran yang melambangkan kebersamaan
dan suatu totalitas di setiap sisinya yang tertutup satu sama lain. Sudahlah,
mungkin simbol cinta memang sudah ada sejak dulu dan pasti ada yang
menciptakannya, entah siapa mungkin saja dua pasangan yang memang sedang jatuh
cinta bisa saja dulu adam dan hawa melakukannya, mungkin awalnya mereka hanya
mau mengabadikan kisah mereka berdua supaya anak dan cucunya nanti melihat
betapa indahnya kasih mereka.
Jika cinta hanya sebuah nama
kenapa hati bisa merasakan kebahagiaan dan rasa sakitnya. Lalu apa cinta itu
hanya seoonggok tak berwujud yang bernama perasaan, namun kenapa tubuh ini
terasa hangat seperti dalam dekap sayap malaikat saat berucap cinta, dan kenapa
bibir ini mengatup kuat-kuat saat merasakan kehangatan cinta dan begitu
menikmatinya. Lalu apa artinya itu bukan hanya sebuah perasaan tak berwujud, oh
mungkin saja itu seperti kunang-kunang yang akan terlihat dan dinikmati
keindahannya saat dalam ketenangan dan hilang saat suara berisik ombak dan
deruh angin mengusiknya. Mungkin saja.
Berjuta-juta tahun berlalu dan berganti jaman lainnya belum ada yang bisa
memasukan dalam kategori apakah cinta. Semakin itu ditanyakan semakin banyak
jawaban yang berahir sebuah pertanyaan baru lainnya. Entah manusia yang terlalu
naif atau memang ini tidak terkontrol dan artinya berjalan begitu saja. Ada dua
sisi kehidupan saat kita merasakan cinta, saat kita jatuh didalam keindahan
cinta seolah-olah raga ini tidak bisa menolaknya dan menganggap-nya lebih indah
dari keindahan lembah kasih, menganggapnya lebih hangat dari dekap seorang ibu,
menganggapnya lebih bercahaya dibanding dengan kilatan andromeda dilangit.
Entahlah percaya atau tidak bukan aku saja yang merasakan hal itu. Dan sisi
lainnya saat cinta kembali pergi, keindahan, kehangatan, dan gejolak lainnya
lenyap seketika berganti musim menjadi sebuah hujan debu vulkanik yang
menggenangi dan menyeruak kedalam raga, dinginnya seperti ada di dalam
bongkahan es, terkurung didalamnya sendirian, telinga serasa dibuatnya tuli,
juga mata yang dibuatnya seketika buta dan hanya berwarna hitam sesekali
abu-abu. Sakitnya seperti tertusuk belati dilumuri racun panah. Seketika semua
keindahan. Radam.
Semuanya
sebenarnya bukan lenyap seperti yang ku bilang tadi hanya saja berganti satu
sama lainnya. Tidak ada cinta yang seperti edelweis yang abadi. Salah satunya
ada yang abadi mungkin tapi tidak selamanya, cinta abadi pun akhirnya harus
berhadapan dengan perpisahan yaitu kematian. Sebagian dari manusia yang
merasakan sisi pertama mungkin akan meminta tuhan dan waktu untuk menghentikan
perputarannya, alasannya adalah tidak ingin merasakan sisi lain dari cinta yang
tidak mereka ketahui apa rasanya. Sebagian lainnya yang terlanjur merasakan
sisi kedua mungkin memilih untuk mengakhirinya sebelum memulainya, dengan kata
lain adalah menolaknya.
Membuatnya layu sebelum berkembang, membuatnya gugur di musim panas,
membuatnya berhenti sebelum mencapai jalan buntu. Manusia sebenarnya sudah
diberikan kesempatan untuk memilih dari awalnya, hanya bodohnya mahluk yang
bernama manusia adalah saat dia memilih untuk bahagia selalu tidak siap untuk .
merasakan penderitaan dalam kebahagiaan. Terlalu berlarut dalam elegi karena
cinta dan mulai berpikir bahwa setiap keindahan itu berahir dengan sebuah
penderitaan begitupun dalam cinta. Aku
hanya berpikir bahwa setiap keindahan yang hilang karena penderitaan itu pasti
dipertemukan dengan keindahan lainnya. Entahlah itu hanya bisikan secangkir
kopi yang menemaniku dimalam ini. Malam tepat dimana aku merasakan sesuatu
perasaan yang tidak bisa aku katakan pada manusia lainnya, kemelut dalam air
tenang. Dimalam lain sebelumnya aku melakukan hal yang sama seperti yang aku
lakukan malam ini, menyeduh secangkir halusan biji robusta hanya bedanya dulu
aku tidak menambahkan creamer didalamnya dan dulu aku meminumnya sekaligus
sehingga yang kudapat adalah perasaan seperti terbakar dalam lidah, sakit,
bodohnya aku padahal aku sendiri yang menuangkan kopinya dan aku sudah tahu kalau
aku menggunakan air panas untuk menyeduhnya mengapa aku meminumnya tidak dengan
hati, tergesa-gesa.
Namun sepertinya secangkir kopi malam ini lebih nikmat dari sebelumnya,
aku mencampur sebagian airnya dengan ari dingin sehingga slruuup terasa hangat
dan tidak menyakiti lidahku, dan rasanya lebih lembut mungkin karena aku
tambahkan creamer didalam campuran molekulnya dan tentu mungkin karena aku
mengaduknya secara perlahan dan sangat hati-hati. Dan terbayang tidak kalau filosofi kopi tadi
mungkin sama halnya dengan cinta. Jika awalnya saja sudah tergesa-gesa dengan
perasaannya tanpa memperhitungkan nya seperti menyeduh kopi dengan air panas
tanpa menambah air dingin , bukan kenikmatan dan kenyamanan tapi malah
menyakiti sesuatu lainnya kalau kopi panas itu menyakiti lidah karena rasa
panasnya, sama halnya dengan hati. Lalu kenapa kamu tidak memulainya dengam
cara kedua, dengan menyeduh kopi dengan dua jenis air berbeda yang satu panas
dan satunya dingin dimana akan ada sesuatu yang baru yang tidak panas dan tidak
dingin tapi hangat, kamu bingung bukan awalnya, karena kopi hanya cepat larut
dalam air panas tapi apalah gunanya kalau kopi larut dengan air panas jika
tidak bisa kamu minum karena lidahmu bisa terbakar arang habis dibuatnya.
Kenapa kamu tidak tambahkan sesuatu yang baru untuk menyempurnkan cintamu karena seperti kopi kalau hanya kopi saja
tanpa gula rasanya pasti pahit, bahkan kamu bisa tambahkan kelembutan lainnya
dengan creamer td.
Bagaimana?
Sebenarnya semuanya pun tergantung bagaimana kamu membuatnya dan menikmatinya.
Kembali pada cinta dan apa artinya itu tergantung pada siapa yang
merasakannya, jika saja seorang pujangga yang merasakannya mungkin cinta itu
syair tak bertuan. Jika seorang penyanyi yang merasakannya mungkin itu adalah
lagu yang dinyanyikannya atau lagu yang tidak ingin dinyanyikannya. Yang perlu
diingat adalah tidak ada cinta yang tidak dikatakan kecuali yang mencintai
dirinya sendiri, soal itu sebuah keindahan atau penderitaan nantinya, anggap
saja itu musim yang dimana sekarang itu adalah kebahagiaan maka pasti akan
berganti dengan musim lainnya yang bernama penderitaan, percayalah itu pasti
terus berganti, tidak ada yang terus menerus terjebak dalam kebahagiaanya atau
terperangkap dalam penderitaannya. Pasti berganti, pasti berubah dan pasti ada
akhir dan awal yang berikutnya.
Terimakasih
semesta
Bukan Pujangga, Karma Chameleon
Tidak ada komentar:
Posting Komentar