Aku bukan, dia bukan, kita juga bukan, tidak Ada siapapun yang perintahkan untuk masuk
Ketika tak mengetuk pintu tak seorang pun tahu jika marmut berkepala hitam itu meronta kesakitan, Bahkan jika angin Dan pohan pinus itu tahu tentang semua pilu nya takkan ubah sedikit pun tentang kesakitan nya...
Malang sekali tak pernah riang
Lebih malang tak bisa pulang
Pulang pun tak Ada tempat
Bagai bahagia yang terus hanya jadi cita-cita
Siapa peduli dengan teriakannya
"Aku lapar" "aku ingin berteriak aku Lelah"
Setiap hari ku berteman dengan peluh Dan Jala usang
Tempat ku bermimpi hanya sekelebat dus usang Dan lampu Teras pertokoan..
Seperti mati rasa , aku tak rasa kan kesakitan, kedinginan, Dan perasaan lainnya...
Aku tak marah jika nasibku harus seperti ini, tapi tak ku biar kan anak-istriku jadi salah Satu diantaranya..
Aku tak ingin dipanggil ayah yang hebat..
Aku laki-laki biasa yang punya orang-orang yang bisa buat ku hebat...
(Tulisan ini says buat saat tidak sengaja says melihat seorang lelaki setengah baya yang menggenggam erat uang ribuan, mengusap dahinya dengan baju yang sudah usang Dan terlihat sedang menatap dunia dengan nanar keangkuhan)
Karya: jhaihan Farah nabila
Tidak ada komentar:
Posting Komentar